Pulsa Telepon Selular Jadi Kebutuhan Pokok, Bisnis Selular RI Bernilai Rp 100 triliun

Pulsa telepon selular telah menjadi kebutuhan pokok nomor 4 masyarakat di Indonesia setelah sandang, pangan, dan papan. Karena itu bisnis selular operator selular di Indonesia nilainya mencapai Rp 100 triliun per tahun.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, banyak pihak tergiur untuk ikut menyelam ke bisnis telepon selular ini termasuk bisnis content provider.

"Urusan pulsa ini sudah menjadi bahan pokok nomor empat. Tidak merokok tidak apa-apa asal bisa beli pulsa," cetus Heru saat ditemui di Hotel Ambhara, Jakarta,

Di tempat yang sama, Staf Pengaduan dan Hukum YLKI Sularsih mengatakan, pertumbuhan pelanggan industri telekomunikasi hingga September 2010 mencapai 10% menjadi 180 juta pelanggan dengan nilai bisnis Rp 100 triliun.

"Dari jumlah itu, pengguna mobile content mencapai 30 juta dan akan tumbuh 80%. Jumlah BTS mencapai 100 ribu, dan belanja modal (capex) operator mencapai US$ 2 miliar per tahun," kata Sularsih. Dalam kesempatan itu, Sularsih mengatakan, besarnya pasar pelanggan telepon selular ini membuat bisnis content provider menjamur. Namun banyak juga pelaku content provider yang 'nakal' dan hanya menguras pulsa para konsumen.

Mira Riati dari Bagian Perizinan Kemensos mengatakan, banyak pelaku content provider yang tidak mengikuti aturan yang berlaku sehingga cenderung merugikan konsumen.

"Kemensos tidak membolehkan hadiah dengan poin tertinggi, SMS konten maksimal 2 kali, lalu undian pariwisata harusnya bisa diuangkan atau dialihkan. Tapi praktiknya tak seperti itu," tutur Mira di tempat yang sama. Kemensos mengancam mencabut SK (surat keputusan) pelaku content provider yang melanggar aturan, atau membekukan operasionalnya.



Sumber :
https://finance.detik.com › berita-ekonomi-bisnis

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel