Tips dari Ahli Ekonomi dan Bisnis agar, Bisnis Anda Mampu Beradaptasi dengan New Normal

Merebaknya pandemi COVID-19 membuat banyak pengusaha ngos-ngosan untuk tetap mempertahankan agar operasional perusahaan terus berjalan. Lumpuhnya aktivitas perekonomian karena adanya pembatasan, jadi salah satu pemicu perusahaan satu per satu terpaksa tutup.

Kini, pemerintah berencana mengganti kebijakan PSBB itu dengan new normal. Keputusan tersebut memungkinkan dunia usaha bisa kembali beroperasi.
Kendati demikian menurut founder Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh para pengusaha agar mampu beradaptasi dengan situasi new normal.
Berikut strategi yang harus dilakukan pengusaha untuk menghadapi new normal:

Merefleksi Keadaan Perusahaan

Strategi pertama, kata Rhenald, yakni merefleksi apa saja masalah yang dialami perusahaan selama masa penanganan virus corona. Langkah ini perlu dilakukan agar lebih mengetahui keadaan perusahaan.
"Semua perusahaan setelah lebaran ini kita semua harus melakukan refleksi, samakan dulu pendapat. Kita harus bertanya bagaimana Anda bekerja, bagaimana mengembangkan bisnis," ujar Rhenald dalam seminar online, Sabtu (30/5).


Rhenald Kasali

Memilih Antara Mempertahankan Usaha Lama atau Mengganti Usaha

Setelah melakukan refleksi, ia menyarankan agar pengusaha mampu menentukan apakah usaha yang dijalankan masih memiliki peluang atau banting setir ke usaha lain.
ADVERTISEMENT
Ia mengatakan, selama pandemi ada usaha yang benar-benar terpuruk serta di sisi lain ada yang justru mengalami peningkatan. Kondisi tersebut harus bisa dipahami sebaik mungkin agar tidak salah menentukan langkah.
"Kalau kita memilih businesss recovery, itu artinya kita masuk di sini kita perbaiki mindset pegawai harus eksploratif. Kalau renewing dan reinventing, anda harus mempercepat proses dan mengembangkan future of work," jelasnya.

Memanfaatkan Teknologi Digital

Strategi yang tak kalah penting untuk diadopsi saat new normal, menurutnya, yakni memanfaatkan teknologi digital. Kebijakan bekerja dari rumah telah mengubah kebiasaan konsumen dari konvensional menjadi online.
"Pandemi ini mempercepat digital technology, jadi yang bikin UMKM itu terpuruk bukan COVID-19 tapi tak memanfaatkan teknologi. Jangan nanti kita menyalahkan gara-gara COVID-19, tapi karena kita bertarung dengan pelaku usaha global dan ketinggalan teknologi," ujarnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel